Kambilo lahir dari semangat kebersamaan masyarakat yang menginginkan kehidupan yang lebih mandiri. Nama Kambilo berasal dari kata “kambolo” yang berarti perkumpulan, menggambarkan kuatnya ikatan sosial di antara warganya. Di balik nama itu juga tersimpan makna spiritual dari ungkapan Arab “Kam Billah”, sebuah pesan tentang keimanan kepada Allah SWT yang diwariskan dari para penyebar Islam pada masa lampau.
Kehidupan di Kambilo berjalan dalam harmoni antara sejarah, alam, dan tradisi. Wilayah ini memiliki beberapa dusun yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya, serta menyimpan jejak sejarah melalui keberadaan Masjid Turlinggampo yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Bima. Kisah tentang sumur ngodo’ dan dua mata air yang menyerupai bentuk tubuh manusia turut menjadi legenda yang hidup di tengah masyarakat, menghubungkan masa lalu dengan kehidupan saat ini.
Di tengah alam yang subur, masyarakat Kambilo menjalani kehidupan sederhana yang penuh makna. Sebagian besar menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan, sementara sebagian lainnya merantau sebagai tenaga kerja di luar negeri. Anak-anak tumbuh dengan semangat belajar, bersekolah pada pagi hari dan melanjutkan pendidikan agama di Taman Pendidikan Al-Qur’an pada sore hari.
Sore hingga malam hari menjadi waktu berkumpul bagi masyarakat. Anak-anak dan pemuda bermain sepak bola atau voli di lapangan, sementara orang dewasa saling berbagi cerita dalam suasana penuh keakraban. Kehidupan ini membentuk sebuah jalinan kebersamaan yang kuat, menjadikan Kambilo bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang hidup yang dipenuhi nilai kekeluargaan, kerja keras, dan harapan bagi generasi yang akan datang.








Ulasan
Belum ada ulasan.