Istana Gonong-Gonong adalah novel historis-spiritual yang mengangkat jejak peradaban tua Minanga Tuha dan Sriwijaya. Melalui lanskap Sungai Komering, Bukit Siguntang, dan lembah-lembah berkabut, kisah ini menghidupkan kembali warisan leluhur Nusantara yang tidak hanya membangun istana batu, tetapi juga istana kesadaran. Di pusat kisah berdiri Datu Minanga, pemimpin yang menaklukkan dunia luar dengan keberanian dan dunia dalam dengan kerendahan hati. Kalimat ajarannya—“Jangan sampai terlihat adanya diri”—menjadi inti dari seluruh perjalanan cerita.
Perjalanan itu kemudian menembus masa kini melalui tokoh Iswan dan Maya, dua jiwa yang terhubung oleh cinta, rahasia, dan pertarungan batin. Konflik perebutan kekuasaan, pengkhianatan darah sendiri, dan peperangan yang tak kasat mata menggiring mereka pada kesadaran bahwa musuh terbesar bukan orang lain, melainkan ego yang bersembunyi di dalam dada manusia. Dari sinilah lahir pesan bahwa sejarah tidak sekadar dibaca, tetapi dihidupkan kembali di dalam jiwa.
Novel ini memadukan unsur sejarah, filsafat, dan spiritualitas dalam satu alur yang puitis. Istana Gonong-Gonong tidak hanya menghidupkan masa lalu, tetapi membangunkan jiwa manusia modern untuk kembali mengenal asal-usulnya. Pembaca diajak menyusuri istana yang tidak terbuat dari batu, tetapi dari cahaya dan kesadaran—sebuah perjalanan bagi mereka yang mencari makna, bukan sekadar kisah.








Ulasan
Belum ada ulasan.