Apa hubungan antara wartawan dan Pancasila? Pertanyaan sederhana itu muncul di sela sebuah ceramah BPIP pada akhir 2025, dan terus menggema dalam benak seorang wartawan yang telah lebih dari tiga dekade menjalani profesinya.
Buku ini lahir dari kegelisahan itu. Bukan untuk menggurui wartawan, bukan pula untuk menjadikan Pancasila alat kekuasaan. Ia adalah renungan dari dalam profesi: bagaimana kejujuran, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan—kelima sila Pancasila—sesungguhnya berdenyut dalam setiap keputusan kecil seorang wartawan. Dalam memilih judul, membingkai peristiwa, memberi ruang pada yang bersuara, dan menahan diri dari yang sekadar viral.
Ditulis dengan bahasa seorang praktisi, buku ini menelusuri dilema nyata ruang redaksi: tekanan pemilik media, godaan amplop, target trafik, swasensor, intimidasi, hingga banjir hoaks dan deepfake di era kecerdasan buatan. Di tengah semua itu, satu keyakinan dipegang teguh: integritas, hati nurani, dan tanggung jawab moral tidak pernah bisa didelegasikan kepada algoritma.
Ini bukan buku teori. Ini ajakan untuk berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah pekerjaan yang kita cintai ini turut merawat Pancasila?
Untuk wartawan, mahasiswa jurnalistik, dosen, dan siapa pun yang percaya bahwa kebenaran, persatuan, dan kemanusiaan layak diperjuangkan—setiap kata, setiap hari.








Ulasan
Belum ada ulasan.