Nara dan Rayhan bertemu di masa SMA, di tengah kesibukan organisasi dan karya-karya kecil yang menyatukan mereka. Mereka tidak pernah saling menyatakan cinta secara langsung, tapi segalanya terasa cukup jelas dalam diam yang saling memahami, dalam tatap yang saling menjaga. Namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yang tidak bisa disangkal: perbedaan keyakinan.
Beranjak dewasa, keduanya memilih jalan masing-masing. Nara menulis untuk menguatkan dirinya sendiri; Rayhan memotret hidup dan mengisi ruang sunyi dengan doa. Waktu berlalu, perasaan tak lagi membakar, tapi juga tidak pernah padam sepenuhnya. Mereka bertumbuh, mengenal cinta baru, tapi tak ada yang sepenuhnya menggantikan jejak yang pernah mereka ukir bersama.
“Saling, Tapi Tak Lagi Satu” bukan kisah cinta biasa. Ini adalah perjalanan emosional tentang perasaan yang tidak ditakdirkan untuk bersama, namun tetap meninggalkan cahaya. Cocok untuk pembaca yang pernah merasakan cinta yang harus dilepas dengan ikhlas, bukan karena kurang rasa… tapi karena terlalu dalam untuk dipaksakan.








Ulasan
Belum ada ulasan.