Salib Merah Putih ditulis sebagai cermin sekaligus panggilan. Ia mengajak umat Kristen di Indonesia bercermin dengan jujur pada sejarahnya, lalu melangkah maju dengan kesadaran baru. Buku ini berangkat dari satu keyakinan profetik: iman Kristen yang setia kepada Kristus tidak pernah bertentangan dengan keindonesiaan, tetapi justru diuji dan dimurnikan di dalamnya. Karena itu, panggilan utama gereja di Indonesia bukanlah memperluas pengaruh religius, melainkan memperdalam tanggung jawab kebangsaan.
Dengan bahasa naratif yang reflektif dan analisis yang tajam, Salib Merah Putih menelusuri bagaimana salib simbol penebusan dan kasih pernah dibungkus oleh logika kolonial dan kekuasaan. Akibatnya, kekristenan kerap dipersepsikan sebagai identitas asing, bahkan eksklusif. Buku ini tidak menyangkal fakta sejarah tersebut, tetapi menjadikannya titik tolak untuk sebuah pertobatan teologis: melepaskan iman dari bayang-bayang dominasi, dan menghidupkannya kembali sebagai kekuatan moral yang membebaskan.
Mengindonesiakan Kristen berarti membiarkan Injil berinkarnasi dalam nilai-nilai Pancasila dan kerangka UUD 1945, tanpa kehilangan pusat Kristologisnya. Iman menemukan wujud nyatanya bukan dalam klaim kebenaran yang keras, melainkan dalam pembelaan terhadap martabat manusia, kesetiaan pada hukum, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap kemajemukan. Di sinilah salib bertemu Merah Putih: iman yang setia kepada Allah sekaligus bertanggung jawab kepada bangsa.
Buku ini merupakan teguran bagi kekristenan yang puas dengan kesalehan privat namun abai terhadap etika publik. Sekaligus, ia adalah undangan penuh harapan agar gereja dan umat Kristen hadir sebagai warga negara yang dewasa, rendah hati, dan solider. Salib Merah Putih menegaskan bahwa kesaksian Kristen yang paling kuat di Indonesia bukanlah upaya mengubah identitas bangsa, melainkan kesediaan untuk ikut memikul beban sejarah, merawat persatuan, dan membangun masa depan Indonesia yang adil, beradab, dan bermartabat.








Ulasan
Belum ada ulasan.