Zaman bergerak cepat, sementara ruang berpikir kerap dipersempit oleh kepentingan, kebisingan, dan sikap serba instan.
Di simpang perubahan sosial, politik, dan kebudayaan itulah nurani diuji: apakah masih menjadi penuntun, atau sekadar pelengkap wacana.
Buku yang ditulis jurnalis senior lewat pengamatan kecendekiawanan ini hadir sebagai upaya untuk menahan sejenak laju zaman dan mengembalikan etika ke pusat perbincangan.
“Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman” menghimpun esai, refleksi, cerpen, dan resensi yang membaca realitas dari sudut tanggung jawab intelektual dan kemanusiaan.
Tulisan-tulisannya belum menjajikan respon akhir, melainkan mengajak pembaca—mahasiswa, akademisi, pemerhati kehidupan dan aktivis—untuk berpikir kritis, mempertanyakan posisi diri, serta merawat kepekaan moral di ruang publik.
Di tengah zaman yang gaduh, buku ini menegaskan bahwa menjaga nurani adalah kerja intelektual sekaligus sikap keberpihakan.








Ulasan
Belum ada ulasan.