Indonesia menyimpan megadiversitas lebih dari 718 bahasa daerah yang kini berada pada titik kritis ancaman kepunahan akibat erosi transmisi antargenerasi, urbanisasi masif, serta dominasi bahasa supra-nasional di ruang publik. Disrupsi revolusi kecerdasan buatan dan dominasi pemodelan bahasa skala besar (Large Language Models) yang berorientasi pada bahasa berdaya sumber tinggi kian memperlebar jurang kesenjangan digital, menghadapkan khazanah linguistik Nusantara pada ancaman nyata berupa kematian bahasa digital (digital language death).
Hadir menjawab krisis eksistensial tersebut, kajian mendalam ini membedah ekologi sosiolinguistik makro, dinamika pergeseran ranah tutur intrafamilial, serta dekonstruksi stigma inferioritas penutur muda melalui aktivasi modal sosial budaya. Lanskap komunikasi digital dan industri kreatif lokal ditelaah secara kritis guna memetakan potensi media sosial, musik etnis, dan digital storytelling sebagai instrumen diplomasi budaya akar rumput. Lebih jauh, reorientasi etnopedagogi dirumuskan melalui integrasi nilai kearifan lokal dan tradisi retorika Nusantara ke dalam Kurikulum Merdeka, sekaligus menyajikan cetak biru rekayasa korpus digital, standardisasi Unicode aksara tradisional, serta arsitektur Natural Language Processing (NLP)—mencakup Automatic Speech Recognition (ASR) dan Neural Machine Translation (NMT)—yang adaptif terhadap bahasa berdaya sumber rendah (Low-Resource Languages).
Berlandaskan prinsip kedaulatan data adat (indigenous language data sovereignty) dan etika CARE, elaborasi interdisipliner ini menegaskan bahwa kecerdasan buatan dapat ditransformasikan menjadi instrumen penyelamat yang memperkuat vitalitas bahasa lokal. Dilengkapi peta jalan resiliensi ekosistem bahasa daerah menuju tahun 2045, karya rujukan komprehensif ini menjadi pegangan esensial bagi akademisi lintas disiplin, pendidik, perekayasa teknologi, pembuat kebijakan publik, serta pegiat kebudayaan dalam merawat keberlanjutan peradaban bangsa di panggung digital global.








Ulasan
Belum ada ulasan.