Buku ini lahir dari perjalanan panjang penulis menelusuri warisan penyembuhan tradisional Bugis, yang berpijak pada harmoni antara tubuh, alam, dan spiritualitas. Terinspirasi dari sosok Ipaita binti La Passisi—seorang Sanro Ugi atau tabib perempuan dari Cenrana, Soppeng—penulis mengangkat kembali Pengetahuan Pabbura, ilmu pengobatan tradisional Bugis yang diwariskan secara turun-temurun melalui lontarak, doa, dan praktik sehari-hari.
Melalui pengalaman hidup bersama sang nenek yang wafat di usia 109 tahun, penulis tidak hanya mewarisi catatan dan ramuan, tetapi juga rasa dan makna di balik setiap pengobatan. Buku ini merekonstruksi, melestarikan, sekaligus memodernkan sistem medis tradisional Bugis, menjadikannya relevan bagi generasi masa kini.
Sebuah undangan untuk menyelami dunia di mana ramuan dan mantra berpadu, di mana penyembuhan tidak hanya tentang obat, tetapi juga doa, niat, dan ketenangan. Warisan tua ini membuktikan bahwa pengetahuan lokal dapat tetap hidup, lestari, dan bermanfaat lintas zaman.







Ulasan
Belum ada ulasan.