Buku ini berisi 100 kumpulan geguritan. Penulis berkreasi dengan membuat pola yang seragam, bait pertama terdiri 5 baris dan bait kedua 5 baris. Untuk bahasa yang digunakan, penulis memilih jawa ngoko maupun krama dengan harapan bisa diterima kalangan muda maupun tua.
Penulis berupaya menangkap fenomena yang terjadi di masyarakat tentang berbagai hal tidak dibatasi tema tertentu, sehingga isi geguritan cukup bervariasi.
Namun penulis memiliki misi untuk mengingatkan berbagai hal terkini lewat tulisan kepada pembaca. Penulis mengingatkan kematian (Tekan Janjine, Nggawa Apa, Pitulungan, Kanggo Pepeling, UripMung Sedhela), Bulan Ramadan (Tumekane Wulan Mulya, Ora Kuwawa, Ancas Sawiji, Entuk Apa, Tansaya ngangseg), Idulfitri (Kupat, Nglenggana Luput, Wulan Kemenangan, Aja Leluwihan, Nglebur Dosa, Aja Lingsem), Mendekatkan Diri Pada Ilahi (Wayah Ratri, Sesuci), Fenomena alam dan sosial (Banyu Langit, Gagat Rahina, Semlenget, Tan Kasat Mata.Kepama), Nasihat (Pacobaing Urip, Angantu, Arep Ngapa, Aja Daksiya, Caos Kurmat), Persahabatan ( Patemon, pasduluran, Ing Patemon, Angon Wayah, Sregep Ngaruhke), seputar rumahtangga (Disangga Bareng, Ngrabuk Trsna, Nalika Semana, Kawigaten, Nganyarke Tresna), bakti kepada orangtua (Swargamu, Mung Butuh Kanca, Ora Kaya Biyen, Ketunggon), , dll.
Penulis berupaya menyampaikan nasehat dengan tidak terkesan menggurui, agar buku ini dapat menambah referensi sastra jawa yang jumlahnya tidak sebanyak karya berbahasa Indonesia.








Ulasan
Belum ada ulasan.