Buku ini lahir dari kegelisahan atas demokrasi Indonesia yang telah berjalan lebih dari dua dekade, namun masih terjebak dalam paradoks: biaya politik yang mahal, dominasi oligarki, populisme yang menguat, serta jurang lebar antara idealisme konstitusi dengan realitas politik. Rakyat kecil tetap berada di pinggiran, terjebak dalam sistem ekonomi-politik yang tidak adil.
Sebagai jawaban, penulis menawarkan pembacaan ulang atas Pancasila, bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi sebagai agama sipil (civil religion), republik filsuf, dan Latoa modern—sebuah etika politik Nusantara yang menyatukan legitimasi transenden dengan konsensus kolektif. Kerangka pemikiran ini menautkan gagasan Robert N. Bellah tentang civil religion, Plato dan al-Fārābī tentang republik filsuf dan al-Madīnah al-Fāḍilah, serta tradisi Bugis Latoa yang menekankan kepemimpinan bermartabat dan deliberatif.
Dengan pendekatan filosofis dan historis, buku ini tidak hanya bersifat akademis, melainkan juga sebuah seruan moral dan politik: Indonesia membutuhkan pemimpin transenden-deliberatif, yang berakar pada nilai spiritual, diteguhkan oleh musyawarah rakyat, serta dijalankan oleh sosok berilmu dan berbudi luhur. Inilah sumbangan orisinal bagi filsafat politik Indonesia sekaligus tawaran jalan keluar dari krisis demokrasi modern.








Ulasan
Belum ada ulasan.