Tulisan ini mengupas bagaimana politik kerap menampilkan wajah yang penuh kamuflase, di mana apa yang terlihat dan terdengar belum tentu mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Mengutip pandangan George Orwell hingga Nikita Kruschev, politik dipahami sebagai ruang yang sarat kebohongan yang dibungkus seolah-olah kebenaran. Fenomena politik Indonesia tahun 2024 menjadi contoh nyata bagaimana aktor-aktor politik membangun citra diri melalui koalisi, kompromi, hingga kampanye masif di media arus utama maupun media sosial.
Dengan menggunakan perspektif simulakra Baudrillard dan dramaturgi Goffman, politik dipandang sebagai panggung sandiwara. Para aktor politik menampilkan wajah ideal di “front stage” untuk menarik simpati publik, sementara “backstage” menyimpan kompromi, konspirasi, bahkan potensi skandal. Media sosial menjadi arena penting pencitraan karena murah, cepat, dan menjangkau luas, sehingga memudahkan politisi memainkan peran populis dan merakyat.
Akhirnya, politik sering menyerupai sebuah sirkus: penuh tontonan, tepuk tangan, dan ilusi kekuatan. Namun di balik itu, yang tampak gagah bisa saja hanya sekadar lelucon atau kedok. Demokrasi pun menjadi panggung yang terus menerus dipenuhi lakon-lakon dramaturgi, di mana citra lebih utama daripada realitas.








Ulasan
Belum ada ulasan.