Buku “Dinamika Otoritas Keagamaan di Ruang Digital” hadir sebagai draf monograf akademik komprehensif yang membedah guncangan eksistensial dan pergeseran epistemik dalam lanskap keberagamaan modern. Ketika ruang publik virtual Web 3.0 mulai meruntuhkan dominasi mimbar fisik pesantren dan organisasi massa konvensional, parameter kebenaran teologis tidak lagi dikurasi secara eksklusif oleh silsilah sanad keilmuan klasik (isnad). Di era disrupsi teknologi ini, otoritas keagamaan mengalami desentralisasi radikal. Rezim algoritma platform, tirani metrik keterlibatan (engagement metrics), dan mekanisme viralitas siber kini bertindak sebagai kurator tunggal dalam menentukan visibilitas dan legitimasi doktrin iman di layar gawai.
Melalui pendekatan sosiologi budaya, sosiolinguistik, dan ekonomi politik media, buku ini mengeksplorasi benturan ideologis yang akut antara bangkitnya pendakwah digital murni (native digital preachers) sebagai micro-celebrity baru dengan upaya pertahanan ulama tradisional. Pembaca diajak membongkar implikasi sosiologis dari fenomena filter bubble, pembentukan ruang gema (echo chambers), anarki fatwa online, hingga dekonstruksi budaya belajar agama pada “Ustadz Google” yang melahirkan pendangkalan kognitif beragama serta tribalisme digital yang agresif. Tidak luput, monograf ini menangkap dinamika jender emansipatoris dari para ustadzah digital, sekaligus memetakan arsitektur gerakan moderasi beragama siber (cyber-moderation) dalam menangkal penetrasi ideologi ekstremis anti-sistem.
Ditutup dengan analisis visioner-antisipatif mengenai masa depan agama di era otomatisasi pengetahuan oleh Large Language Model (AI Chatbots) dan ruang imersif Metaverse, buku ini menjadi rujukan ilmiah tebal yang wajib dibaca oleh dosen, akademisi, peneliti media, mahasiswa, serta pengambil kebijakan tata kelola konten nasional demi menjaga kohesi sosial bangsa di era post-truth.








Ulasan
Belum ada ulasan.