Di balik tembok sempit sebuah asrama kampus, Laili, Bunga, ayu, Nina dllnya. menjalani hari-hari yang penuh warna dengan antrean yang tak pernah berhenti. Dari mandi, sarapan, mencuci, hingga print tugas, setiap langkah mereka diwarnai kekacauan, tawa yang pahit, dan drama kecil yang kerap membuat kesabaran mereka diuji. Namun di tengah ketidaksempurnaan itu, lahirlah kebersamaan yang tak ternilai ikatan persahabatan yang melampaui rasa lelah dan kesal.
Setiap kegaduhan, setiap telur gosong di pagi hari, setiap sandal yang hilang, bahkan tikus-tikus yang besar melampaui tubuhnya sendiri, menjadi pengingat akan pelajaran hidup yang tak bisa dipelajari di buku manapun. Novel ini menghadirkan cinta sederhana, harapan panjang, dan tawa yang menenangkan, di tengah rutinitas yang tampak sepele tapi sarat makna.
“Antrian Terus” adalah kisah tentang kesabaran, solidaritas, dan ketahanan jiwa—tentang bagaimana setiap antrean dalam hidup, sekecil apapun, menyimpan cerita, tawa, dan pelajaran yang membentuk karakter. Dari drama sehari-hari di asrama hingga refleksi mendalam tentang masa depan, novel ini menegaskan satu hal: hidup memang penuh antrean, namun setiap antrean adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan dan kebahagiaan.








Ulasan
Belum ada ulasan.