Dunia saat ini berada pada ambang ketidakpastian paling mengkhawatirkan sejak berakhirnya Perang Dingin. Buku Potensi Menuju Perang Dunia III: Geopolitik Dunia dan Peta Konflik Global hadir bukan sebagai provokasi sosiopolitik, melainkan sebagai kajian kritis-empiris atas dinamika kekuasaan global yang semakin terfragmentasi. Pada 2026 yang penuh gejolak, tatanan dunia lama yang didominasi hegemoni tunggal kian memudar, digantikan kompetisi kekuatan lama dan baru dalam konfigurasi zero-sum. Melalui pendekatan multidisipliner yang memadukan teori Hubungan Internasional, sejarah militer, ekonomi politik, dan analisis geostrategis, buku ini menempatkan ketegangan di Ukraina, Taiwan, dan Gaza sebagai gejala dari pergeseran struktural dalam arsitektur kekuasaan global.
Karya ini menyoroti tiga pilar rivalitas utama: konfrontasi nuklir antara NATO dan Rusia, kompetisi hegemonik Amerika Serikat dan Tiongkok di Indo-Pasifik, serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan aktor negara dan non-negara. Perebutan “Emas Biru” berupa energi dan “Emas Putih” berupa semikonduktor dipaparkan sebagai katalis baru yang menggantikan ekspansi teritorial klasik. Buku ini juga mengulas melemahnya efektivitas sistem multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta menguatnya aliansi minilateral yang lebih cair dan pragmatis. Dalam kerangka tersebut, potensi perang global dipahami bukan sebagai deklarasi formal, melainkan sebagai rangkaian eskalasi siber, sabotase ekonomi, dan perang proksi yang berisiko bermuara pada konflik terbuka.
Di tengah pusaran rivalitas itu, buku ini memberi perhatian khusus pada posisi strategis Indonesia. Dengan doktrin politik luar negeri “Bebas Aktif”, Indonesia menghadapi dilema menjaga kedaulatan dan stabilitas ekonomi, terutama di Laut Natuna Utara yang bersinggungan dengan klaim Tiongkok. Analisis diarahkan pada kemampuan Indonesia menavigasi kepentingan antara blok Barat dan poros ekonomi baru seperti BRICS+, tanpa mengorbankan integritas teritorial. Bagian akhir menghadirkan refleksi mengenai masa depan tatanan dunia: apakah umat manusia akan mengulang tragedi 1914 dan 1939, atau masih tersedia ruang bagi reformasi multilateralisme yang mampu meredam ambisi adidaya. Dengan data mutakhir hingga 2026, buku ini relevan bagi akademisi, diplomat, analis keamanan, dan mahasiswa yang ingin memahami kompleksitas geopolitik kontemporer.








Ulasan
Belum ada ulasan.