Apakah mungkin wahyu menjadi negara?
Di tengah dunia yang terbelah antara sekularisme yang kehilangan makna dan ideologi yang kehilangan jiwa, buku ini menghadirkan satu pertanyaan besar: dapatkah nilai-nilai ilahi benar-benar diwujudkan dalam struktur kekuasaan modern?
Melalui studi mendalam tentang Iran, Dr. Mappasessu mengajak pembaca melampaui stereotip geopolitik, menuju pemahaman yang lebih mendasar: bahwa ketahanan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau ekonomi, tetapi oleh kemampuannya menghubungkan langit teologi dengan bumi kesejahteraan rakyat.
Buku ini memperkenalkan konsep kunci Teologi Materialisasi Wahyu, sebuah kerangka pemikiran yang menjelaskan bagaimana wahyu tidak berhenti sebagai teks, tetapi bergerak melalui tafsir, dilembagakan dalam institusi, dan diwujudkan dalam kehidupan sosial. Dari sistem kesejahteraan hingga ekonomi perlawanan, dari simbol revolusi hingga struktur negara, Iran dibaca sebagai eksperimen besar dalam menghadirkan spiritualitas ke dalam realitas.
Namun buku ini bukan sekadar tentang Iran.
Ini adalah refleksi global tentang masa depan peradaban.
Dengan membandingkan model sekularisme Barat, ideologi negara di Asia, dan dinamika dunia Islam, karya ini menawarkan satu jalan alternatif: sebuah model peradaban yang tidak memisahkan iman dari kehidupan, tetapi juga tidak menundukkan manusia pada kekuasaan tanpa nilai.
Dari Indonesia, buku ini menghadirkan kontribusi pemikiran baru untuk dunia:
bahwa spiritualitas sejati bukan yang hanya diyakini, tetapi yang mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan ketahanan dalam kehidupan nyata.
“Iran: Ketika Wahyu Menjadi Negara” bukan hanya buku tentang satu negara,
tetapi sebuah undangan untuk membayangkan ulang hubungan antara Tuhan, manusia, dan peradaban.
Sebuah karya penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan siapa pun yang mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar zaman ini: bagaimana membangun dunia yang tidak hanya kuat, tetapi juga bermakna.








Ulasan
Belum ada ulasan.