Gerhana di Tanah Siri’ adalah novel etnoreligius yang lahir dari kepedulian terhadap penegakan adat dan nilai siri’ na pacce yang semestinya berlandaskan ilmu dan agama, bukan sekadar gengsi atau tekanan sosial. Novel ini tidak bermaksud menghakimi adat maupun membenarkan pilihan seperti silariang, melainkan menghadirkan ruang untuk mendengarkan suara-suara yang kerap terbungkam oleh rasa malu, keputusan kolektif, dan perjalanan waktu.
Melalui kisah Karaeng Kebo dan Daeng Lagu, pembaca diajak menyelami makna siri’ dan pacce—dua nilai luhur yang pada hakikatnya saling menguatkan, tetapi dalam kenyataan dapat menghadirkan luka ketika dipahami secara sempit. Di antara adat, harga diri, dan cinta, berdirilah manusia dengan segala kelemahan, keberanian, dan ketabahannya.
Novel ini menghadirkan tokoh-tokoh fiksi yang berakar pada realitas sosial, menyuguhkan kisah yang jujur dan membumi. Gerhana di Tanah Siri’ menjadi ruang perenungan bahwa adat semestinya berjalan seiring dengan agama, bahwa belas kasih adalah ruh dari setiap nilai luhur, dan bahwa setiap pilihan hidup memiliki harga sekaligus makna.








Ulasan
Belum ada ulasan.