Buku “Desain Pemanfaatan Sumber-sumber Pangan dari Kawasan Hutan: Strategi Menuju Ketahanan Pangan dan SDGs” membahas pentingnya kawasan hutan sebagai sumber pangan masa depan yang belum sepenuhnya dikelola secara strategis. Hutan tidak hanya menyediakan kayu dan jasa lingkungan, tetapi juga menyimpan buah-buahan, sagu, aren, madu, jamur, rebung, umbi, rempah, kacang, biji-bijian, dan berbagai pangan lokal bernilai tinggi. Di tengah perubahan iklim, krisis pangan, dan ketergantungan pada komoditas tertentu, pangan hutan dapat menjadi penyangga ketahanan pangan nasional. Buku ini mengajak pembaca memahami pangan hutan melalui pendekatan berpikir sistem, sehingga pemanfaatannya tidak dilihat secara sempit sebagai kegiatan mengambil hasil hutan. Pemanfaatan pangan hutan harus dirancang dengan memperhatikan ekologi, masyarakat lokal, kearifan adat, rantai nilai, keamanan pangan, pasar, teknologi digital, dan kebijakan. Dengan desain yang tepat, pangan hutan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat diversifikasi pangan, menjaga biodiversitas, dan mengurangi tekanan terhadap hutan. Buku ini juga menunjukkan bahwa konservasi hutan dan ketahanan pangan bukan dua agenda yang bertentangan. Keduanya dapat saling menguatkan apabila dikelola secara adil, lestari, partisipatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Melalui pembahasan yang sistematis, buku ini menawarkan kerangka desain pemanfaatan pangan hutan mulai dari inventarisasi sumber pangan, zonasi pemanfaatan, panen lestari, pengolahan produk, digitalisasi rantai pasok, hingga indikator keberhasilan SDGs. Pembaca akan menemukan gagasan praktis tentang bagaimana masyarakat sekitar hutan, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas lokal dapat bekerja sama membangun sistem pangan hutan yang tangguh iklim. Buku ini menempatkan pangan hutan sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan yang mendukung pengurangan kemiskinan, penghapusan kelaparan, kesehatan, pekerjaan layak, konsumsi bertanggung jawab, aksi iklim, dan perlindungan ekosistem daratan. Di era digital, pangan hutan juga dapat dikembangkan melalui pemetaan berbasis data, pemasaran daring, ketertelusuran produk, dan promosi berbasis identitas lokal. Namun, teknologi harus tetap berpihak kepada masyarakat dan memperkuat kearifan lokal yang telah lama menjaga keberlanjutan hutan. Buku ini relevan bagi mahasiswa, akademisi, pemerintah daerah, pengelola kawasan hutan, masyarakat adat, pelaku UMKM, LSM, dan pembuat kebijakan. Isinya tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga arah praktis untuk merancang pemanfaatan pangan hutan yang berkelanjutan. Pada akhirnya, buku ini menjadi ajakan untuk melihat hutan sebagai lumbung kehidupan yang mampu menopang pangan, ekonomi, budaya, ekologi, dan masa depan bangsa.








Ulasan
Belum ada ulasan.