Kota tidak pernah berhenti tumbuh. Ia meluas, menembus batas, dan perlahan merangkul wilayah-wilayah di sekitarnya. Di sanalah, pada ruang yang sering luput dari perhatian—di antara kota dan desa—terbentang zona peri-urban: ruang yang tidak sepenuhnya urban, namun juga bukan lagi rural. Sebuah ruang peralihan yang hidup, dinamis, dan penuh ketegangan.
Zona Peralihan: Teori dan Realitas Peri-Urban dalam Perencanaan Wilayah mengajak pembaca untuk memasuki dunia yang kompleks ini—sebuah ruang di mana perubahan berlangsung cepat, identitas bernegosiasi, dan masa depan sedang dibentuk. Buku ini tidak hanya membahas bagaimana peri-urban berkembang secara fisik, tetapi juga bagaimana ruang tersebut diproduksi melalui interaksi sosial, mobilitas, kekuasaan, dan praktik keseharian masyarakat.
Melalui perpaduan antara teori kritis dan realitas empiris, buku ini menghadirkan cara pandang baru dalam memahami wilayah yang selama ini sering dianggap “pinggiran”. Dari persoalan ketimpangan akses, konflik lahan, hingga peluang inovasi dan keberlanjutan, peri-urban ditampilkan sebagai ruang yang sarat tantangan sekaligus penuh kemungkinan.
Lebih dari sekadar kajian akademik, buku ini merupakan refleksi mendalam tentang bagaimana kita merencanakan masa depan wilayah. Ia mempertanyakan pendekatan perencanaan yang konvensional, sekaligus menawarkan paradigma baru yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada keadilan spasial.
Bagi akademisi, mahasiswa, perencana, maupun praktisi, buku ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa ruang tidak hanya dibentuk dari atas, tetapi juga dari bawah—melalui kehidupan sehari-hari yang sering kali tak terlihat.
Karena pada akhirnya, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh pusatnya, tetapi juga oleh bagaimana kita memahami dan merencanakan ruang di antaranya.








Ulasan
Belum ada ulasan.