Selama lebih dari delapan dekade kemerdekaan Indonesia, gereja telah bertumbuh, berorganisasi, dan beribadah dengan relatif bebas. Namun sebuah pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: mengapa gereja belum berhasil melahirkan generasi Kristen yang berjiwa patriotisme NKRI? Buku Iman Tanpa Tanah Air lahir dari kegelisahan teologis dan kebangsaan atas jurang yang semakin nyata antara iman Kristen dan tanggung jawab terhadap Indonesia. Buku ini mengajak pembaca menelusuri akar historis masuknya kekristenan ke Nusantara, relasinya dengan kolonialisme, serta posisi gereja dalam sejarah perjuangan bangsa. Dari sana, pembaca dibawa melihat bagaimana iman yang dipersempit, teologi impor yang tidak dikontekstualkan, trauma sejarah, dan pendidikan iman yang ahistoris telah melahirkan kekristenan yang saleh secara ritual, tetapi rapuh secara kebangsaan.
Dengan pendekatan analitis dan akademik yang kuat, buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia bergerak ke wilayah profetik menyuarakan panggilan gereja untuk bertobat dari iman yang melarikan diri dari realitas bangsa. Gereja ditantang untuk keluar dari mentalitas defensif dan membangun iman yang membumi, inkarnasional, dan bertanggung jawab secara publik. Melalui narasi teologis yang jernih dan kontekstual, buku ini menawarkan jalan rekonstruksi: membangun gereja dan pendidikan iman yang berjiwa Indonesia, melahirkan generasi Kristen patriotisme NKRI, serta menempatkan Pancasila dan NKRI sebagai ruang panggilan iman, bukan ancaman iman.
Iman Tanpa Tanah Air adalah ajakan serius bagi gereja, pendeta, teolog, dan umat Kristen Indonesia untuk menghidupi iman yang setia kepada Kristus sekaligus mengasihi Indonesia. Sebuah buku yang tidak hanya mengajak berpikir, tetapi mengajak bertindak demi gereja yang dewasa dan bangsa yang bermartabat.








Ulasan
Belum ada ulasan.