Dalam sebuah sore dingin di kaki Gunung Cikuray, penulis—seorang jurnalis yang biasa berkutat dengan hiruk-pikuk dunia modern—berjumpa dengan tradisi Nyaneut. Bukan sekadar ritual minum teh, Nyaneut adalah peristiwa budaya masyarakat Sunda yang merayakan keheningan, kebersamaan, dan kehangatan dengan cara paling tulus dan alami.
Melalui pengalaman personal dan pengamatan mendalam, buku ini merekam denyut tradisi yang hidup di tengah masyarakat Cigedug—yang tak hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga membangun jembatan antara seni, spiritualitas, dan keberlanjutan. Di tengah obor, senyap, dan tawa anak-anak di bawah langit senja, penulis mengajak pembaca menyeduh makna hidup dari cangkir teh sederhana.
Lebih dari sekadar dokumentasi budaya, buku ini adalah undangan untuk melambat, merenung, dan merawat kembali relasi dengan sesama dan alam. Mari Nyaneut bersama—dalam keheningan yang menghangatkan, dalam kebersamaan yang menguatkan.








Ulasan
Belum ada ulasan.